|
|
Gianfranco Zola (www.telegraph.co.uk) |
|
VIVAnews - Pelatih West Ham United, Gianfranco Zola, memberi saran pada generasi muda yang merintis karir sepakbola agar jangan takut gagal. Sebuah semboyan yang dijadikan pegangan hidup pria bertubuh mungil itu.
"Saya tidak takut berbuat salah. Saya menjadi pemain andal dengan gagal menendang penalti. Menangislah sesudah itu, tak mengapa karena semua bagian dari proses," ujar Zola yang piawai mengeksekusi penalti seperti dilansir tribal.
Zola merintis karir sebagai pemain di klub kecil, Nuorese (1984–1987) dan Torres (1987-1993). Selepas menemukan bentuk permainan terbaik, berturut-turut Zola pindah ke Napoli (1989-1993), Parma (1993–1996), Chelsea (1996–2003) dan Cagliari (2003–2005).
Namun saat menjadi pelatih, ia sadar kalau banyak ilmu yang tak bisa didapat ketika menjadi pemain. Salah satu cara belajar terbaik adalah dengan membesut pemain muda. Dengan begitu, ia dan para "muridnya" bisa saling berbagi ilmu sepakbola.
Pria 42 tahun itu bahkan mengaku kalau keputusannya pindah ke West Ham dari timnas Italia U-21 penuh risiko. Tapi, ia tak ragu untuk mengambil kesempatan yang terbentang di depannya.
"Saya menempatkan diri dalam bahaya," tambah Zola.
"Semua prestasi terbaik dipertaruhkan dengan menjadi pelatih West Ham. Saya tak memilih Chelsea, tapi saya suka tantangannya. Semakin besar jabatan, semakin besar pula tanggung jawab dan sorotan yang Anda terima. Setiap kesalahan pasti tercatat," ucap pria kelahiran Sardinia, Italia itu.
• VIVAnews